LAWAN FASISME BERKEDOK AGAMA!!

Melihat kehidupan toleransi keberagamaan di negeri ini yang akhir-akhir ini ramai dikejutkan oleh beberapa kasus, tentu saja tak bisa didiamkan begitu saja. Saya kira seluruh umat beragama mesti saling membantu untuk menekan kuasa represif kelompok agama fasis yang selalu bikin rusuh ini.
Ya, saya sebetulnya menghargai keberagamaan. Namun tidak untuk yang mebikin onar. Dalam sejarah islam masa Rasulullah pun, tidak ada bentuk penyampaian kebenaran yang melalui jalur kekerasan. Tidak ada. Pelbagai peperangan yang terjadi masa Rasulullah adalah murni peperangan politik semata. Bukan peperangan agama–sebagaimana yang kita dengar dari pelajaran agama mainstream. Kenapa tampak seperti perang agama, hanya karena kebetulan saja bangsa yang berperang itu memiliki mayoritas masyarakat yang berbeda secara agama.
Tuan, nona, kisana, nisanak, saudaraku, tentu berfikir, apa buktinya kalau peperangan itu bukanlah perang agama? Juga, apa buktinya kalau itu adalah pertarungan politik? Silakan duduk sebentar. Mari berefleksi.
Singkat saja jawabnya. Setelah Rasul memenangkan pertarungan, tidak ada kewajiban bagi para penduduk yang kalah untuk masuk Islam. Itulah mengapa ada kafir (sebutan bagi non muslim, waktu itu), dalam hal ini kafir dzimmi, yang hidup tenang di bawah kepemimpinan Rasul. Kalaupun masyarakat yang kalah perang itu masuk islam, itu lantaran kesadaran mereka sediri. Bukan lantaran dipaksa. Andai itu adalah perang atas nama penegakan agama, tentu saja tidak akan ada istilah kafir dzimmi.

Kalian tentu tau, kafir ini adalah orangorang yang memilih untuk tidak memeluk islam, meskipun  juga hidup dan tinggal di dalam bangsa yang dipimpin oleh Rasul. Bahkan kelompok masyarakat ini juga sangat dilindungi oleh Rasul. Hukum tetap diberlakukan bagi mereka yang menyakiti kaum ini. Misalnya saja saya hidup waktu itu, lalu saya mencuri barang perniagaan mereka, tentu saya juga dihukum. Kalau saya mencuri dalam kadar tertentu, tangan saya bisa dipotong, sebagaimana hukum yang diterapkan di Arab waktu itu.
Ini sekaligus penegas banwa peperangan itu adalah peperangan politik. Rasulullah hanya mengambil alih kekuasan politik saja. Beliau tidak mengambil alih kebenaran agama dengan memaksakan untuk memeluk agama Islam. Saya kira ini berlu kita sadari, bahwa Rasul pun mengakui dan toleran terhadap kaum yang memilih untuk tidak memeluk Islam.
Pada pengembangannya kini, kita juga perlu menginterpretasi pada konteks kekinian. Problem keagamaan kita adalah pada pemaksaan kebenaran tafsir agama yang tunggal. Inilah yang membuat pelbagai saudara islam yang lain diberangus, sebagaimana pada Ahmadiyah yang terjadi pada akhir-akhir ini. Terlebih penegakan itu menggunakan cara-cara kekerasan. Tentu saja ini kelewatan–untuk tidak menyebut ketololan. Karena bahkan Nabi pun tidak pernah melakukannya, lebih lanjut Ia melarang kekerasan. Seharusnya kasus akhir-akhir ini tidak terjadi, bukan?
Kalau saja ajaran nabi tidak dicermati dengan baik, tentu saja kehidupan beragama kita saat ini akan terasa lebih indah. Entah mengapa, saya merasa kasus kasus belakangan sudah sangat kelewatan. Saya merasa ini dorongan kemusliman saya. Bahwa saya tidak ingin agama dijadikan sebagai alat untuk menegakkan fasisme gerakan. Sekiranya kini kita semua perlu bersepakat untuk bersama-sama menyelamatkan kehidupan keberagamaan di negeri ini. Meneriakkan suara lantang yang dititipkan Tuhan kepada kita: Lawan Fasisme Berkedok Agama.
Ingat kawan, saya tidak meneriakkan perangi agama, perangi FASISME berkedok agama.

Sumber : https://islami.co/fasisme-agama-realitas-atau-bualan-belaka/ Fuck RadikalismeMoslims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s